19.2.13

Puisi Habibie untuk Ainun


Memperingati 1000 hari meninggalnya Ainun Habibie pada tanggal 15 Februari 2003, rasanya tidak berlebihan jika saya kembali memunculkan tulisan yang dibuat sang mantan presiden Republik Indonesia itu
sesaat setelah istri tercintanya dipanggil menghadap Sang Khalik, Sang Pemilik Hidup.

Tulisan Habibie ini mendapat respon yang luar biasa saat banyak dimuat di media massa. Bahkan rasa cinta antar dua insan itu diakui begitu hebat sampai banyak yang menjuluki mereka sebagai pasangan yang memiliki Cinta Sejati. Tidak berhenti sampai di situ saja, masyarakat rela antri berjam-jam untuk mendapatkan tiket menonton film yang sengaja dibuat untuk mengenang kisah cinta mereka berdua Habibie Ainun.

Hanya sekedar mengingatkan betapa ketulusan dan keikhlasan itu mampu membuat semuanya terasa begitu ringan dan mudah untuk dijalani... Dan memberitahu siapa saja yang belum pernah menikmati setiap kata hati dari Habibie, sang pencipta pesawat untuk Indonesia dan juga untuk Ainun...


Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu. Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya, dan kematian adalah sesuatu yang pasti, dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.


Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.


Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang. Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada. Aku bukan hendak megeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.


Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang, tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik. Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.

Selamat jalan, Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya, kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.
  Selamat jalan sayang, cahaya mataku, penyejuk jiwaku, Selamat jalan, calon bidadari surgaku ….

B.J. Habibie untuk Ainun

0 comments:

Post a Comment