Memperingati 1000 hari meninggalnya Ainun Habibie pada tanggal 15 Februari 2003, rasanya tidak berlebihan jika saya kembali memunculkan tulisan yang dibuat sang mantan presiden Republik Indonesia itu
sesaat setelah istri tercintanya dipanggil menghadap Sang Khalik, Sang Pemilik Hidup.
sesaat setelah istri tercintanya dipanggil menghadap Sang Khalik, Sang Pemilik Hidup.
Tulisan Habibie ini mendapat respon yang luar biasa saat banyak dimuat di media massa. Bahkan rasa cinta antar dua insan itu diakui begitu hebat sampai banyak yang menjuluki mereka sebagai pasangan yang memiliki Cinta Sejati. Tidak berhenti sampai di situ saja, masyarakat rela antri berjam-jam untuk mendapatkan tiket menonton film yang sengaja dibuat untuk mengenang kisah cinta mereka berdua Habibie Ainun.
Hanya sekedar mengingatkan betapa ketulusan dan keikhlasan itu mampu membuat semuanya terasa begitu ringan dan mudah untuk dijalani... Dan memberitahu siapa saja yang belum pernah menikmati setiap kata hati dari Habibie, sang pencipta pesawat untuk Indonesia dan juga untuk Ainun...
Sebenarnya ini bukan tentang
kematianmu, bukan itu. Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti
menjadi tiada pada akhirnya, dan kematian adalah sesuatu yang pasti, dan
kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.
Tapi yang membuatku tersentak
sedemikian hebat, adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat
memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya
mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di
tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.
Kau tahu sayang, rasanya seperti angin
yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang. Pada airmata yang jatuh
kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, pada kesetiaan yang
telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada. Aku bukan
hendak megeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.
Mereka mengira aku lah kekasih yang
baik bagimu sayang, tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan
aku kekasih yang baik. Mana mungkin aku setia padahal memang
kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga
aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu
seperti ini.
Selamat jalan, Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya, kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.
Selamat jalan sayang, cahaya mataku, penyejuk jiwaku,
Selamat jalan, calon bidadari surgaku ….
B.J. Habibie untuk Ainun






0 comments:
Post a Comment